Memahami sejarah perjuangan dan peradaban Islam tidak melulu harus dilakukan di dalam ruang kelas. Mengusung konsep wisata edukatif, program Al Maqodisah Journey sukses digelar di Malaysia pada 28–30 Juni 2025. Diikuti oleh 20 peserta dedikatif dari Relawan AlQuds Indonesia (Relasi) dan Relawan Zakat Sukses, perjalanan ini menawarkan lebih dari sekadar rekreasi lintas negara.
Program ini dirancang khusus untuk membedah literasi sejarah—mulai dari titik kegemilangan hingga fase kemunduran peradaban Islam. Tujuannya satu: membuka wawasan, menyentuh hati, dan membangkitkan kembali kesadaran kolektif umat Islam terhadap isu-isu kemanusiaan global, khususnya terkait Baitul Maqdis.
Melacak Jejak Kegemilangan dan Kemunduran Umat
Dalam perjalanan selama tiga hari tersebut, peserta tidak hanya diajak mengunjungi situs-situs bersejarah, tetapi juga melakukan refleksi mendalam. Observasi sejarah ini menjadi pemantik diskusi kritis mengenai kondisi umat Islam di era modern.
CEO SH Institute, Muamar M. Thahir, menekankan bahwa perjalanan ini adalah sebuah instrumen rekayasa kesadaran. Menurutnya, pemahaman masa lalu adalah kunci untuk mengurai benang kusut krisis kemanusiaan di masa kini.
"Al Maqodisah Journey bukan sekadar lawatan wisata fisik, melainkan perjalanan spiritual dan intelektual. Melalui napak tilas peradaban ini, kami ingin membangkitkan kembali memori kolektif umat bahwa perjuangan kemerdekaan Palestina dan pembebasan Baitul Maqdis harus dilandasi oleh pemahaman sejarah yang utuh, bukan sekadar euforia sesaat," tegas Muamar M. Thahir.
Metode experiential learning (belajar melalui pengalaman langsung) ini terbukti efektif dalam mentransfer esensi sejarah menjadi sebuah empati yang menggerakkan kesadaran para peserta.
Lintas Generasi Menuju Pembebasan Baitul Maqdis
Keunikan lain dari Al Maqodisah Journey adalah sifatnya yang inklusif. Perjalanan edukatif ini membuka pintu seluas-luasnya bagi seluruh kalangan lintas usia, profesi, dan gender. Heterogenitas peserta dari Relasi dan Zakat Sukses membuktikan bahwa perjuangan dan kepedulian terhadap Baitul Maqdis bukanlah milik satu golongan saja, melainkan tanggung jawab moral seluruh elemen masyarakat.
Bagi para peserta, setiap diskusi dan napak tilas di Malaysia memberikan perspektif baru. Kegiatan ini menanamkan sebuah filosofi penting: perjalanan yang paling bermakna bukanlah sekadar tentang sejauh mana tempat yang dikunjungi, melainkan seberapa besar makna, wawasan, dan kesadaran yang berhasil dibawa pulang untuk diaplikasikan dalam kehidupan bermasyarakat.
